Lead

Nov 13 06 12:00 PM

Tags : :

Terdapat berbagai kisah-kisah Tauladan buat semua. Semoga ianya memberi pengajaran yang berguna buat semua. Amin..
Quote    Reply   

#1 [url]

Nov 13 06 12:03 PM

So.. SWEET

steak: Do I ever cross your mind?

Boy: No

steak: Do you like me?

Boy: Not really

steak: Do you want me?

Boy: No

steak: Would you cry if I left?

Boy: No

steak: Would you live for me?

Boy: No

steak: Would you do anything for me?

Boy: No way

steak: What would you choose: your life..or me?

Boy: My life

The steak runs away in shock and pain and the boy runs after her and says...

The reason you never cross my mind is because you're always on my mind.
The reason why I don't like you is because I love you.
The reason I don't want you is because I need you.
The reason I wouldn't cry if you left is because I would die if you left.
The reason I wouldn't live for you is because I would die for you.
The reason why I'm not willing to do anything for you is because I would do everything for you.
The reason I chose my life is because you ARE my life.

Quote    Reply   

#2 [url]

Nov 13 06 12:05 PM

Marriage Joke

I was happy. My girlfriend and I had been dating for over a year, and so we decided to get married. My parents helped us in every way, my friends encouraged me, and my girlfriend? She was a dream!

There was only one thing bothering me, very much indeed, and that one thing was her younger sister. My prospective sister-in-law was twenty years of age, wore tight mini skirts and low cut blouses. She would regularly bend down when quite near me and I got many a pleasant view of her underwear.

It had to be deliberate. She never did it when she was near anyone else. One day cilantro sister called and asked me to come over to check the Wedding invitations. She was alone when I arrived. She whispered to me that soon I was to be married, and she had feelings and desires for me that she couldn't overcome and didn't really want to overcome. She told me that she wanted to make love to me just once before I got married and committed my life to her sister. I was in total shock and couldn't say a word. She said, "I'm going upstairs to my bedroom, and if you want to go ahead with it just come up and get me."

I was stunned. I was frozen in shock as I watched her go up the stairs. When she reached the top she pulled down her panties and threw them down the stairs at me. I stood there for a moment, then turned and went straight to the front door. I opened the door and stepped out of the house. I walked straight towards my car.

My future father-in-law was standing outside. With tears in his eyes he hugged me and said, "We are very happy that you have passed our cilantro test. We couldn't ask for better man for our daughter. Welcome to the family."

The moral of this story is: always keep your condoms in your CAR.



Pesanan penulis : Artikel ini adalah sebagai bahan bacaan sahaja. Jangan sesekali kita meniru adat resam org-org yg munafik. NAUZUBILLAH..

Quote    Reply   

#3 [url]

Nov 13 06 12:07 PM

Today's A Gift, That's why It's Called The Present

Two men, both seriously ill, occupied the same hospital room. One man was allowed to sit up in his bed for an hour each afternoon to help drain the fluid from his lungs. His bed was next to the room's only window.

The other man had to spend all his time flat on his back. The men talked for hours on end. They spoke of their wives and families, their homes, their jobs, their involvement in the military service, where they had been on vacation.

Every afternoon when the man in the bed by the window could sit up, he would pass the time by
describing to his roommate all the things he could see outside the window. The man in the other bed began to live for those one hour periods where his world would be broadened & enlivened by all the activity & colour of the world outside.

The window overlooked a park with a lovely lake. Ducks & swans played on the water while children
sailed their model boats. Young lovers walked arm in arm amidst flowers of every colour & a fine view of the city skyline could be seen in the distance.

As the man by the window described all this in exquisite detail, the man on the other side of the
room would close his eyes and imagine the picturesque scene.

One warm afternoon the man by the window described a parade passing by. Although the other man couldn't hear the band - he could see it. In his mind's eye as the gentleman by the window portrayed it with descriptive words.

Days & weeks passed.

One morning, the day nurse arrived to bring water for their baths only to find the lifeless body of the
man by the window, who had died peacefully in his sleep. She was saddened and called the hospital
attendants to take the body away. As soon as it seemed appropriate, the other man asked if he could be moved next to the window. The nurse was happy to make the switch and after making sure he was comfortable, she left him alone.

Slowly, painfully, he propped himself up on one elbow to take his first look at the real world outside.
He strained to slowly turn to look out the window beside the bed. It faced a blank wall.

The man asked the nurse what could have compelled his deceased roommate who had described such wonderful things outside this window. The nurse responded that the man was blind and could not even see the wall.

She said, "Perhaps he just wanted to encourage you."

Epilogue:
There is tremendous happiness in making others happy, despite our own situations.

Shared grief is half the sorrow, but happiness when shared, is doubled.

If you want to feel rich, just count all the things you have that money can't buy.

"Today is a gift, that's why it is called the present."


Note : The origin of this article is unknown, but it does make you think. Share it with those you care..

Quote    Reply   

#4 [url]

Nov 15 06 2:20 PM

KETIKA IBLIS MEMBENTANGKAN SAJADAH

Siang menjelang dzuhur. Salah satu Iblis ada di Masjid. Kebetulan hari itu Jum'at, saat berkumpulnya orang. Iblis sudah ada dalam Masjid. Ia tampak begitu khusyuk. Orang mulai berdatangan. Iblis menjelma menjadi ratusan bentuk & masuk dari segala penjuru, lewat jendela, pintu, ventilasi, atau masuk lewat lubang pembuangan air.

Pada setiap orang, Iblis juga masuk lewat telinga, ke dalam syaraf mata, ke dalam urat nadi, lalu menggerakkan denyut jantung setiap para jamaah yang hadir. Iblis juga menempel di setiap sajadah.

"Hai, Blis!", panggil Kiai, ketika baru masuk ke Masjid itu.

Iblis merasa terusik : "Kau kerjakan saja tugasmu, Kiai. Tidak perlu kau larang-larang saya. Ini hak saya untuk menganggu setiap orang dalam Masjid ini!", jawab Iblis ketus.

"Ini rumah Tuhan, Blis! Tempat yang suci,Kalau kau mau ganggu, kau bisa diluar nanti!", Kiai mencoba mengusir.

"Kiai, hari ini, adalah hari uji coba sistem baru". Kiai tercenung.

"Saya sedang menerapkan cara baru, untuk menjerat kaummu". "Dengan apa?"

"Dengan sajadah!"

"Apa yang bisa kau lakukan dengan sajadah, Blis?"

"Pertama, saya akan masuk ke setiap pemilik saham industri sajadah. Mereka akan saya jebak dengan mimpi untung besar. Sehingga, mereka akan tega memeras buruh untuk bekerja dengan upah di bawah UMR, demi keuntungan besar!"

"Ah, itu kan memang cara lama yang sering kau pakai. Tidak ada yang baru,Blis?"

"Bukan itu saja Kiai..."

"Lalu?"

"Saya juga akan masuk pada setiap desainer sajadah. Saya akan menumbuhkan gagasan, agar para desainer itu membuat sajadah yang lebar-lebar."

"Untuk apa?"

"Supaya, saya lebih berpeluang untuk menanamkan rasa egois di setiap kaum yang kau pimpin, Kiai! Selain itu, Saya akan lebih leluasa, masuk dalam barisan sholat. Dengan sajadah yang lebar maka barisan shaf akan renggang. Dan saya ada dalam kerenganggan itu. Di situ Saya bisa ikut
membentangkan sajadah".

Dialog Iblis dan Kiai sesaat terputus. Dua orang datang, dan keduanya membentangkan sajadah. Keduanya berdampingan. Salah satunya, memiliki sajadah yang lebar. Sementara, satu lagi, sajadahnya lebih kecil. Orang yang punya sajadah lebar seenaknya saja membentangkan sajadahnya, tanpa melihat kanan-kirinya. Sementara, orang yang punya sajadah lebih kecil,
tidak enak hati jika harus mendesak jamaah lain yang sudah lebih dulu datang. Tanpa berpikir panjang, pemilik sajadah kecil membentangkan saja sajadahnya, sehingga sebagian sajadah yang lebar tertutupi sepertiganya.

Keduanya masih melakukan sholat sunnah.

"Nah, lihat itu Kiai!", Iblis memulai dialog lagi.

"Yang mana?"

"Ada dua orang yang sedang sholat sunnah itu. Mereka punya sajadah yang berbeda ukuran. Lihat sekarang, aku akan masuk diantara mereka".

Iblis lenyap. Ia sudah masuk ke dalam barisan shaf. Kiai hanya memperhatikan kedua orang yang sedang melakukan sholat sunah. Kiai akan melihat kebenaran rencana yang dikatakan Iblis sebelumnya. Pemilik sajadah lebar, rukuk. Kemudian sujud. Tetapi, sembari bangun dari sujud, ia membuka sajadahya yang tertumpuk, lalu meletakkan sajadahnya di atas sajadah yang kecil. Hingga sajadah yang kecil kembali berada di bawahnya. Ia kemudian berdiri. Sementara, pemilik sajadah yang lebih kecil, melakukan hal serupa.

Ia juga membuka sajadahnya, karena sajadahnya ditumpuk oleh sajadah yang lebar. Itu berjalan sampai akhir sholat. Bahkan, pada saat sholat wajib juga, kejadian-kejadian itu beberapa kali terihat di beberapa masjid. Orang lebih memilih menjadi di atas, ketimbang menerima di bawah. Di atas sajadah, orang sudah berebut kekuasaan atas lainnya. Siapa yang memiliki sajadah lebar, maka, ia akan meletakkan sajadahnya diatas sajadah yang kecil. Sajadah sudah dijadikan Iblis sebagai pembedaan kelas.

Pemilik sajadah lebar, diindentikan sebagai para pemilik kekayaan, yang setiap saat harus lebih di atas dari pada yang lain. Dan pemilik sajadah kecil, adalah kelas bawah yang setiap saat akan selalu menjadi sub-ordinat dari orang yang berkuasa.

Di atas sajadah, Iblis telah mengajari orang supaya selalu menguasai orang lain.

"Astaghfirullahal adziiiim ", ujar sang Kiai pelan.

Quote    Reply   

#6 [url]

May 16 08 11:04 AM

Saat sakratul maut menghampiri Nabi Muhammad SAW
Bismillahirrahmannirahiim
Dengan nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang

Detik-detik Rasullah SAW menjelang sakratul maut

Ada sebuah kisah tentang totalitas cinta yang dicontohkan Allah lewat kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, meski langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbata memberikan petuah, "Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua hal pada kalian, Al Qur'an dan Sunnah. Barang siapa mencintai sunnahku, berati mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan bersama-sama masuk surga bersama aku."

Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang teduh menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan napas dan tangisnya. Ustman menghela napas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba.

"Rasulullah akan meninggalkan kita semua," desah hati semua sahabat kala itu. Manusia tercinta itu, hampir usai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan sigap menangkap Rasulullah yang limbung saat turun dari mimbar. Saat itu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu, kalau bisa.

Matahari kian tinggi, tapi pintu Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.

Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. "Bolehkah saya masuk?" tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, "Maafkanlah, ayahku sedang demam," kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu. Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, "Siapakah itu wahai anakku?"
"Tak tahulah aku ayah, sepertinya ia baru sekali ini aku melihatnya," tutur Fatimah lembut.

Lalu, Rasulullah menatap putrinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Satu-satu bagian wajahnya seolah hendak di kenang. "Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut," kata Rasulullah, Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya.

Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tak ikut menyertai. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap diatas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini. "Jibril, jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah?" Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah. "Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua surga terbuka lebar menanti kedatanganmu," kata jibril. Tapi itu ternyata tak membuat Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan. "Engkau tidak senang mendengar kabar ini?" Tanya Jibril lagi. "Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?" "Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: 'Kuharamkan surga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada
didalamnya," kata Jibril.

Detik-detik semakin dekat, saatnya malaikat Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik Tampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang. "Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."
Lirih Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril membuang muka. "Jijikkah kau melihatku, hingga kaupalingkan wajahmu Jibril?" Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu. " Siapakah yang tega, melihat kekasih Allah direnggut ajal," kata Jibril.

Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, karena sakit yang tak tertahankan lagi. "Ya Allah, dahsyat niat maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku." Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. "Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan santuni orang-orang lemah di antaramu."

Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan.

Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan. "Ummatii, ummatii, ummatiii?"

kawan, sepenggal kisah diatas menggambarkan disaat Rasul menjelang ajalnya, beliau masih memikirkan umat ketimbang dirinya sendiri...dan ALLAH menjanjikan kepada setiap Nabi dan Rasulnya suatu doa yang pasti dikabilkan...semua nabi dan rasul menggunakan doa tersebut utk mendapatkan karomah dan berkah dari ALLAH SWT kepada diri dan keluarganya..namun pada saat ALLAH bertanya kepada Rasulullah SAW mengenai apa keinginan dan doa nabi SAW kepadanya..dengan penuh keikhlasan Nabi menjawab..jika engaku mengizinkan ya ALLAH..maka aku simpan doa ini utk mendoakan umatku agar engkau mengampuni mereka ya ALLAH...

betapa cinta Rasul SAW kepada umatnya, kepada kita...namun bisakah kita memberikan kasih sayang dan cinta kepada ALLAH dan Rasulnya?...semoga..kita mampu memberikan salam dan shalawat kepada Rasul SAW...

Quote    Reply   

#7 [url]

Jun 25 08 7:36 PM

13 wasiat Rasulullah kepada Ali

Satu ketika di zaman seorang Khalifah berlaku kegawatan ekonomi yang meruncing. Keadaan menjadi semakin gawat apabila tumbuhan tidak menjadi. Hujan sudah tidak turun selama beberapa bulan. Pemerintah mencanangkan agar semua rakyat turun ke padang untuk solat istisqa' dan berdoa agar Allah menurunkan hujan. Namun hujan tidak turun juga. Khalifah menjemput ramai ustaz, tok guru dan para abid yang berpengaruh serta mempunyai ikutan yang ramai, untuk bersama-sama berdoa kepada Allah; tetapi keadaan masih tidak berubah.

Khalifah menjadi semakin khuatir apabila kemarau kian berpanjangan. Baginda berusaha mencari orang yang mustajab doanya untuk tampil ke depan bagi mengimami solat pinta hujan. Akhirnya tampil seorang lelaki yang kelihatan selekeh dengan pakaian yang comot dan rambut yang kusut berjumpa Khalifah. "Ya khalifah! Saya datang untuk menyahut seruan tuanku." Khalifah macam tak begitu yakin melihat pemuda yang comot itu. "Benarkah kamu ini? Sedangkan ramai para ulamak dan abid yang terkenal tidak dimakbulkan Allah doanya, inikan pula kamu yang begini?". Pemuda itu menjawab, "Insyallah doa kita akan dikabulkan!".

Pemuda itu terus mengimami sembahyang bersama rakyat dan berdoa. Belum pun habis doanya, dengan tidak diduga hujan turun mencurah-curah dengan lebat. Khalifah segera bertanya, "Wahai pemuda, cuba kamu ceritakan kepada beta apa amalan kamu sehingga doamu diperkenankan Allah." Pemuda itu menceritakan "Pernah semasa muda dulu, saya begitu asyik melihat wajah seorang gadis ayu. Saya terpesona dengan kecantikannya sehingga saya terlalai dari mematuhi perintah Allah. Saya menyesal atas kejahatan saya itu dan merobek-robek muka saya hingga tanpa disedari biji mata saya terkeluar dari rongganya. Sebab itulah mata saya menjadi sepet. Saya bertaubat dari kejahatan itu dan terus mengabdikan diri kepada Allah." Khalifah mengucapkan terima kasih dan terus sujud syukur kepada Allah.



MORAL & IKTIBAR

Allah menurunkan bala sebagai peringatan kepada hamba-hambanya atas dosa yang dilakukan.

Kehendak Allah mengatasi segala.

Allah menyayangi orang yang bertaubat sehingga apa saja doanya dikabulkan Allah.

Allah sayang kepada seseorang bukan kerana rupa dan sifat lahiriahnya, tetapi kerana sifat ubudiah dan ketaqwaannya.

Untuk mengatasi apa jua masalah yang menimpa, Allah menganjurkan kita supaya kembali kepadaNya.

Jangan memandang orang dari sifat lahiriahnya tetapi lihat dari segi amalan dan ketaqwaanya kepada Allah.

Quote    Reply   

#8 [url]

Jun 25 08 7:40 PM

SI-SOPAK, SI-BOTAK DAN SI-BUTA

Pada suatu hari Allah memerintahkan malaikat bertemu dengan tiga orang Bani Israil. Ketiga-tiga mereka cacat; seorang botak, seorang sopak dan seorang lagi buta.

Malaikat yang menyamar seperti manusia itu bertanya si-sopak "Jika Allah hendak kurniakan sesuatu untuk kamu, apakah yang kamu mahu?" Si-sopak menjawab, "Saya mahu kulit saya sembuh seperti biasa dan diberi kekayaan yang banyak." Dengan takdir Allah, kulitnya kembali sembuh dan dikurniakan rezeki yang banyak.

Kemudian malaikat bertanya si-botak soalan yang sama. Si-botak menjawab, "Saya mahu kepala saya berambut semula supaya kelihatan kacak dan diberikan harta yang banyak." Tiba-tiba, dengan kurnia Allah si-botak itu kembali berambut dan diberikan harta yang banyak.

Selepas itu malaikat bertanya si-buta pertanyaan yang sama. Si-buta menjawab, "Saya hendak mata saya dicelikkan semula dan diberikan harta yang banyak." Dengan takdir Allah, mata si-buta menjadi celik dan dikurniakan kekayaan yang melimpah.

Selang beberapa bulan, Allah memerintahkan semula malaikat untuk berjumpa dengan ketiga-tiga orang cacat itu. Kali ini malaikat menyamar sebagai peminta sedekah. Dia berjumpa dengan orang pertama yang dulunya sopak dan meminta sedikit wang. 'Si-sopak' itu tidak menghulurkan sebarang bantuan malah mengherdik malaikat. Malaikat berkata, "Saya rasa saya kenal kamu. Dulu kamu sopak..dan miskin. Allah telah menolong kamu." Si-sopak tidak mengaku. Dengan kuasa Allah, si-sopak yang sombong itu bertukar menjadi sopak semula dan bertukar menjadi miskin.

Kemudian malaikat berjumpa dengan si-botak yang telah menjadi kaya dan berambut lebat. Apabila malaikat meminta bantuan, si-botak juga enggan membantu, malahan dia tidak mengaku bahawa dia dulu botak. Oleh sebab sombong dan tidak sedar diri, Allah menjadikan kepalanya botak semula dan bertukar menjadi miskin.

Malaikat berjumpa dengan orang buta yang telah diberikan penglihatan. Apabila malaikat meminta bantuan, si-buta memberikan keseluruhan hartanya dan berkata, "Ini semua harta pemberiaan Allah. Ambillah kesemuanya. Mata saya yang kembali celik ini adalah lebih berharga daripada kesemua harta ini." Malaikat tidak mengambil pemberian itu. Dia memberitahu bahawa dia adalah malaikat yang pernah datang dulu. Kedatangannya kali ini ialah untuk menguji siapa di antara mereka bertiga yang bersyukur.

Si-buta yang bersyukur itu terus dapat menikmati kekayaan dan penglihatannya. Manakala si-sopak dan si-botak kekal dengan keadaannya yang asal.



MORAL & IKTIBAR

Allah mengurniakan kesenangan dan keselesaan adalah sebagai ujian untuk melihat siapakah di antara mereka yang bersyukur

Manusia yang bersyukur Allah akan tambah kurniaan sebaliknya manusia yang kufur akan diazab oleh Allah

Manusia seringkali lupa daratan apabila diberikan kemewahan dan kesenangan
Sangat sedikit hamba Allah yang bersyukur

Siapa yang tidak bersyukur kepada manusia, dia tidak akan bersyukur kepada Allah

Allah memberi kurnia kepada sesiapa yang dikehendakiNya dan menarik nikmat daripada siapa sahaja yang dikehendakiNya

Sifat syukur adalah satu sifat yang terpuji, sebaliknya kufur (kufur nikmat) adalah sifat yang dicela oleh Allah.

Quote    Reply   

#9 [url]

May 26 09 9:27 PM

Kisah AYAM dan LEMBU

Seorang kaya duduk termenung di dalam sebuah restoran. Wajahnya sugul seperti memikirkan sesuatu.

"Kenapa semua orang mengatakan aku kedekut. Padahal semua orang tahu jika aku sudah tiada lagi di dunia nanti, aku akan memberikan semua harta kekayaanku kepada badan-badan kebajikan!" kata orang kaya tersebut kepada seorang pelayan.

Pelayan terdiam sejenak dan kemudian berbicara,"Akan saya ceritakan kepada tuan tentang kisah ayam dan lembu," Lalu dia pun bercerita..

Pada zaman dahulu, terdapat sekumpulan ayam dan lembu di sebuah ladang. Lembu begitu popular dan disenangi, sedangkan sang ayam tidak sama sekali. Perkara ini menghairankan sang ayam. Ia berasa cemburu dengan sang lembu.

Ia berkata kepada sang lembu, "Semua orang berkata begitu manis tentang dirimu dan mereka menganggap kamu murah hati, kerana setiap hari kamu memberi mereka krim dan susu. Tapi bagaimana dengan aku? Aku memberikan semua yang aku punya. Aku memberikan manusia dagingku. Aku turut memberikan mereka bulu-buluku. Bahkan mereka memasak dan membuat sup dengan kakiku untuk kesihatan. Tidak ada haiwan yang berbakti sebegitu banyak seperti itu. Kenapa aku masih tidak dihargai?"

"Adakah tuan tahu apa jawapan sang lembu?,"tanya si pelayan itu kepada orang kaya tersebut. Orang kaya yang mendengar cerita itu dengan penuh minat hanya menggeleng kepala.

"Sang lembu berkata tenang, "Mungkin kerana aku memberikannya sewaktu aku masih hidup..."

Moral:

Berbuatlah kebajikan sementara kita masih hidup dan sihat. Jangan menunggu tika kita sudah meninggal dunia, baru mengharapkan orang lain utk berbuat kebajikan atas nama kita.



artikel di petik dari AMIN HOMEPEJ

Quote    Reply   

#10 [url]

May 27 09 5:05 PM

Berkorban Itu Indah

Telah dua bulan musim hujan berlalu sehingga di mana-mana pepohonan nampak menghijau. Kelihatan seekor ulat di antara dedaun menghijau yang bergoyang-goyang diterpa angin.

"Apa khabar daun hijau," katanya.

Tersentak daun hijau menoleh ke arah suara yang datang

"Oh, kamu ulat. Badanmu kelihatan kurus dan kecil, mengapa?" tanya daun hijau.

"Aku hampir tidak mendapatkan dedaunan untuk makananku. Bolehkah engkau membantuku sahabat?" kata ulat kecil.

"Tentu.. tentu.. dekatlah kemari." Daun hijau berfikir, "Jika aku memberikan sedikit dari tubuhku ini untuk makanan si ulat, aku akan tetap hijau. Hanya sahaja aku akan kelihatan berlubang-lubang. Tapi tak apalah."

"Perlahan-lahan ulat menggerakkan tubuhnya menuju daun hijau.

Setelah makan dengan kenyang ulat berterimakasih kepada daun hijau yang telah merelakan bahagian tubuhnya menjadi makanan si ulat. Ketika ulat mengucapkan terima kasih kepada sahabat yang penuh kasih dan pengorbanan itu, ada rasa puas di dalam diri daun hijau. Sekalipun tubuhnya kini berlubang di sana-sini namun ia bahagia dapat melakukan sesuatu bagi ulat kecil yang lapar.

Tidak lama berselang ketika musim panas datang daun hijau menjadi kering dan berubah warna. Akhirnya ia jatuh ke tanah, disapu orang dan dibakar.

Moral:
Apa yang terlalu bererti di hidup kita sehingga kita enggan berkorban sedikit sahaja bagi sesama? Nah... akhirnya semua yang ada akan "mati" bagi sesamanya yang tidak menutup mata ketika sesamanya dalam kesukaran. Yang tidak membelakangi dan seolah tidak mendengar ketika sesamanya berteriak meminta tolong. Ia rela melakukan sesuatu untuk kepentingan orang lain dan sejenak mengabaikan kepentingan diri sendiri.

Merelakan kesenangan dan kepentingan diri sendiri bagi sesama memang tidak mudah, tetapi indah. Ketika berkorban diri kita sendiri menjadi seperti daun hijau yang berlobang namun itu sebenarnya tidak mempengaruhi hidup kita, kita akan tetap hijau, Tuhan akan tetap memberkati dan memelihara kita.

Bagi "daun hijau", berkorban merupakan sesuatu perkara yang mengesankan dan terasa indah serta memuaskan. Dia bahagia melihat sesamanya dapat tersenyum kerana pengorbanan yang ia lakukan. Ia juga melakukannya kerana menyedari bahawa ia tidak akan selamanya tinggal sebagai "daun hijau". Suatu hari ia akan kering dan jatuh.

Demikianlah kehidupan kita. Hidup ini hanya sementara, kemudian kita akan mati. Itu sebabnya isilah hidup ini dengan perbuatan-perbuatan baik, kasih, pengorbanan, pengertian, kesetiaan, kesabaran dan kerendahan hati.

Jadikanlah berkorban itu sebagai sesuatu yang menyenangkan dan membawa sukacita tersendiri bagi anda. Kita dapat berkorban dalam banyak perkara.
Mendahulukan kepentingan sesama, melakukan sesuatu bagi mereka,memberikan apa yang kita punyai dan masih banyak lagi pengorbanan yang dapat kita lakukan.

Yang mana yang sering kita lakukan? Menjadi ulat kecil yang menerima kebaikan orang atau menjadi "daun hijau" yang senang memberi.

Quote    Reply   
Add Reply

Quick Reply

bbcode help